Skip to main content

Posts

The Virtual Friend #Last(?)

Aku penasaran dan semakin penasaran akan sosok lelaki itu. Rasanya kurang adil saja. Dia tahu hampir segalanya tentang aku, tapi aku sendiri tidak tahu dia siapa. Well, sebenarnya sudah mulai tahu. Dia sendiri yang menceritakan kepadaku dan kapan kita pernah berkenalan. Tapi aku sama sekali tidak ingat kejadian itu. Memang benar kali yaa aku yang lupa? Masa iyaa aku beneran amnesia, atau jangan-jangan ini hanya cerita karangan dari Rakan. Hebat juga dia bisa mengarang cerita detail dan keren seperti ini. Sudah pantas menyutradarai film-film layar lebar.
Rasa penasaranku memuncak. Aku semakin yakin kalau selama ini pasti ada orang ketiga yang ikut berperan. Ternyata memang benar bukan? Ada saudaranya yang juga tinggal disini. Tapi siapa? Sampai sekarang aku tidak tahu.
Untuk kesekian kalinya aku bertanya pada Rakan, "Kenapa aku gak boleh tau saudara kamu?"
Rakan menjawab, "Belum waktunya. Nanti kamu kepoin saya terus."
"Bisa jadi setelah tau, kamu ngejauh karena ta…
Recent posts

The Virtual Friend #5

Sudah satu minggu lebih kami berkomunikasi baik. Akhirnya mulai terbongkar siapa dia si sosok misterius ini. Mungkin teman-temanku yang mengetahui cerita ini merasa creepy, tapi aku tidak merasakan hal serupa. Malah semakin penasaran untuk mengetahui siapa dia. 
"Demi Allah ya. Saya kenalan sama kamu di Munich. Setelah sholat Ied. Ingat-ingat lagi sambil makan," ucap Rakan kesal.
OK. Sepertinya dia mulai kesal. Aku benar-benar lupa dengan kejadian tersebut. Maklumlah itu terjadi dua tahun yang lalu.
Rakan melanjutkan penjelasannya, "Dan tentang pertanyaanmu kemarin, kenapa saya baru chat kamu sekarang? Beberapa hari setelah Idul Fitri saya pulang ke Indonesia. Saya tipikal orang yang menyalin nomor HP ke buku untuk menghindari resiko. Sayangnya ketika kembali kesini HP saya hilang dan buku catatan tertinggal di rumah."
"Hmm mantep juga ceritanya. Tapi aku masih gak ingat," responku.
"Pasti enggak percaya sama hantu," balas Rakan, "Waktu itu ada …

The Virtual Friend #4

Pelan-pelan kamu juga bakal tau siapa saya. Aku masih ingat dengan ucapan ini. Ok kita ikuti saja alurnya bagaimana. Semakin aku penasaran, semakin dia senang untuk tetap menjadi sosok misterius. Bersikap seolah aku tidak bertanya-tanya lagi tapi sebenarnya sih masih penasaran.
Beberapa hari yang lalu aku pernah mempublikasikan cerita ini ke social mediaku. Mumpung ada ide untuk menulis dan sepertinya ini akan menjadi cerita yang seru, ya kenapa tidak diabadikan saja melalui tulisan.
Ternyata ada seorang temanku yang mengirimkan komentar, bahwasanya dia tahu siapa sosok yang aku maksud selama ini.
"Mbak Cyn... Kayanya aku tau orangnya siapa," begitu tulisnya.
Sontak aku kaget dan senang juga. Akhirnya ada juga yang tahu. Selama ini aku sudah mencoba mencari tahu. Pernah aku tanyakan ke teman-teman dekatku, dengan anggapan mungkin saja Rakan tahu aku dan segala info tentang aku dari mereka teman-temanku. Ternyata bukan. 
Sebagai seseorang yang penasaran aku juga telah mencoba menc…

The Virtual Friend #3

"Tidur. Masih saja online," pesan masuk dari Rakan.
"Nanti kamu sakit loh. Mentang-mentang ada asuransi," tambahnya.
Aku memang masih online malam itu. Seru-seruan ngeskype bersama teman-teman. Siapa lagi kalau bukan sahabatku. Sebenarnya kami baru saja berpisah satu hari yang lalu. Tapi entah kenapa rasanya ingin skype dan ngobrol bersama. 
"Kantukku hilang," balasku.
"Ini saya kirimkan pengantar tidur," dan Rakan pun mengirimkan satu lagu. Aku penasaran dengan lagu yang dikirimnya, tapi degdegan juga sih kira-kira di kirim apa. Ternyata lagu Ed Sheeran yang berjudul Perfect.
***
Pagi, disaat aku terbangun, ternyata sudah ada pesan masuk dari Rakan. Itu hari ketiga ia menghubungiku. 
"Today is Father's Day. Jangan lupa telepon Ayah," tulisnya.
Benar juga. Sudah lama aku tidak mengabari kedua orangtuaku. Kami memang tidak tiap hari telponan. Mungkin 2 kali seminggu. Tergantung keadaan. 
Aku masih penasaran dengannya. Rakan? Rakan siapa? Di…

The Virtual Friend #2

Kebayang gak sih gimana rasanya kalau ada orang yang gak kamu kenal tiba-tiba ngechat kamu dan tau banyak hal tentang kamu? Serem sih mungkin, tapi ini malah membuatku menjadi makin penasaran. Masih dengan orang yang sama, kelanjutan dari The Virtual Friend #1

HP-ku berdering. Ada pesan masuk dan ini masih dari orang yang sama dengan kemaren. Kubuka layar HP yang masih dikunci. Tertera jelas +3246xxxxxxx dan menanyakan apa yang sedang aku lakukan siang itu. 
Pukul 11:30 CET. Aku sedang asik menyusun playlist lagu untuk siaran. Kali ini siaran dadakan mengisi kegabutan dan berhubung ada slot siaran yang kosong di radio. 
"Mending aku siaran aja, kangen juga udah lama gak siaran," pikirku.
Aku pilih lagu yang menurutku cocok untuk saat itu. Di Indonesia sendiri sudah malam dan malam minggu pula. Cocok nih lagu yang bertemakan cinta dan galau. Biasanya bakal ramai di radio kalau jam-jam segitu.
"Kamu siaran?" tanya Rakan, "Saya mau dengerin ah," sambungnya.
"…

The Virtual Friend #1

Sore itu, masih pukul 18:00 CET, keretaku baru saja berangkat dari stasiun Schlüchtern, pemberhentian pertama menuju kota Augsburg. Sebelumnya aku berpisah dengan dua orang temanku di Fulda. Kami bertiga baru saja balik dari Frankfurt untuk mengurus perpanjangan pasport. Tidak disangka, ternyata sudah empat tahun kami survive di Jerman. Setelah berpisah di Fulda, saatnya aku seornag diri melanjutkan perjalanan pulang, karena kami tinggal di kota yang berbeda. 
Cukup dingin dengan suhu 3ᐤC aku berjalan menuju gerbong dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk perjalanan yang tidak begitu lama. Sekitar 1,5 jam untuk mencapai pemberhentian berikutnya. 
Aku duduk di sisi sebelah kanan gerbong. Ransel dan totebag kuletakkan di samping kiri. Kepalaku bersandar ke jendela sambil mengamati keadaan luar. Tiba-tiba aku teringat dengan satu pertanyaan yang pernah muncul di benakku. Kira-kira tiga hari yang lalu setelah aku berkelana ke ujung utara Jerman, "Jadi intinya apa? Setelah perjalanan…